cari

19 Juli 2011

Dunia Plastik

Untuk merasa bersalah plastik, membutuhkan ribuan tahun untuk didaur ulang.
Miniatur khas buah tanga pasar ini.
Menjadi miniatur Republik.
Kesanggupan kita hanya memodifikasi.
Selanjutnya,..
Dengan 10.000 rupiah,
Politik menjadi ajang para Ronggeng membentuk tuhan baru.
Kreatifitas ini, semacam uang berlapis dari setiap kerja keras
yang selama ini menginovasi adi kodrati kita.
Tampaknya, rutinitas ini perlahan dan pasti menjadi keringat kita.
Maka dudukkalah  setiap rajutannya pada cara kita memahami hawanya.

Jika senja...

Jika sepatu merapat diujung Almari
Pola guntingan gaun Ibu melukis diatas sofa
Dengan 25 % cream pencerah,
Alam menikahi hujan.
Jika Sajadah menceraikan Almari
Keduanya membingkai gemericik gerimisnya
Asbak dilipatan sudut paha,
Berdansa atas abunya
Jika secangkir kopi menyeduh hari esoknya
Ucapan terima kasih mengaliansi masyarakat Indonesia
Panggung di atas aliran Sungai,
berhitung ulang semua jempatan yang ada.

APAKAH KITA SUNGGUH-SUNGGUH BUGIL?


Realitas sosial begitu bugilnya, 
sehingga semua agama besar dunia berselimut hijab. 
Sendawa pikiran itu, 
melontarkan sepatu dari mulut-mulut kita.
Kita tampak melangkah begitu cepat jadi tampak sangat lambat secara wadagnya.
Orang berusaha melipat hawa atas nama apa saja, 
melupakan kesanggupannya sendiri.


Senandung Fajar

Nafas adalah kepercayaan atas ketiadaan
yang mewujud dalam wadagnya.
Ia adi kodrati kesementaraan yang menjadi.
kehidupan adalah panggung dini hari.
Yang merangkak, menjadi tegak,  berdiri dan membungkuk.
Maka bumi sebagai lukisan kita, ia adalah kebaikan yang merawat .
Dan seni tertinggi dalam politik adalah makanan dan minuman.
Harta karun kehendak fitrah diri yang kurang disadari.

Krepy Petty

Dengan sedikit bertingkah,
peremajaan ini akan membutuhkan waktu cukup lama bagi dunia adakadabra.
Tapi sebagai mahluk bertulang belakang,
kita akan memanfaatkan mahluk tak bertulang belakang untuk kepentingan politik kita.

Ini sangat mengherankan!